TARGET MARKET MILENIAL, KENALAN YUK

Di artikel ini kami akan mengajak Anda untuk lebih mengenal target market milenial. Siapa sih mereka itu? Bagaimana karakter mereka? Bagaimana cara belanja mereka? Kita akan bahas satu persatu, simak saja artikel ini sampai habis.

Istilah ‘milenial’ seringkali disalahartikan untuk menyebutkan satu generasi muda yang malas, temperamental, dan tergantung sama gadget. Mereka adalah generasi yang yang bergentayangan di dunia media sosial. Anonim, tak berani menunjukkan jati diri aslinya, maunya serba instan, seenaknya sendiri ketika mengkomentari atau memposting sesuatu dan berbagai hal negatif lainnya.

Tapi apa benar begitu?

target market milenial

Mungkin anggapan negatif di atas sebagian benar, tapi tahukah Anda bahwa para milenial yang kira-kira sekarang berumur 23 – 36 tahun ini ternyata jauh lebih luas pengetahuannya dan jauh lebih praktis dalam berpikir jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Tumbuh di jaman revolusi teknologi, para milenial ini secara konstan terhubung aktif dengan teknologi, salah satunya media sosial. Generasi milenial dua setengah kali lebih mudah mengadopsi teknologi baru dibanding generasi sebelumnya. Ini juga berarti, milenial secara konstan terpapar konten digital dan juga iklan digital.

Jika Anda menjadikan mereka sebagai target market milenial untuk bisnis Anda, terus simak artikel ini ya.

Sebenarnya target market milenial itu luas. Ada baiknya Anda tetap harus men-targetkan lebih spesifik lagi. Target market milenial ini punya karakteristik yang unik, terbagi-bagi dengan interest atau kesukaan mereka. Jika Anda sudah mengetahui hal ini, Anda bisa mendekati milenial dengan lebih efektif.

Yuk, ah. Mari kita mengenal target market milenial lebih dalam lagi..

PROFILING MILENIAL

Menurut sebuah studi yang dilakukan Global Web Index pada tahyn 2019, generasi milenial ini mulai mendominasi secara signifikan angkatan kerja secara global. Diperkirakan seperempat angkatan kerja adalah generasi milenial.

Berlawanan dengan anggapan milenial adalah generasi malas, mereka malah terbukti sangat berambisi dalam berkarir. 64% milenial adalah pekerja full time dan 10% adalah pekerja freelance. Dibandingkan generasi sebelumnya, milenial ini dinilai cukup siap jika perekonomian dunia menghadapi resesi.

BACA JUGA : MEMBUAT KONTEN YOUTUBE : APA YANG HARUS ANDA SIAPKAN?

Target market milenial ini juga sangat independen. Tidak terlalu tergantung sama orang lain, termasuk bos atau orang tuanya. Mereka mampu bekerja di mana pun dengan memanfaatkan teknologi, dan milenial membuat batas yang kabur antara bekerja dan bermain. Keduanya harus menyenangkan baginya. Target market milenial ini bersedia bekerja di rumah hingga larut malam, tapi mereka juga bermain ketika bekerja di kantor.

MILENIAL DAN MEDIA

Target market milenial sama sekali tidak bisa dilepaskan dari smartphone dan koneksi internet. Bagi mereka, itu adalah segalanya. Tanpa smartphone dan koneksi internet, adalah sebuah kiamat kecil baginya. Serasa hidup terasing. Ada joke, para milenial ini lebih baik lupa bercelana dalam daripada lupa membawa gadget. Segitunya ya.

Menurut studi di atas, smartphone adalah gadget atau device teratas yang dipilih oleh milenial. Paling tidak mereka memiliki satu, dan banyak juga yang memiliki lebih dari satu. Selain smartphone, biasanya milenial juga mempunyai gadget lainnya seperti PC atau laptop atau smart tv. Milenial mampu menghabiskan waktu hingga 3 jam 49 menit di smartphone setiap hari. Mereka juga banyak menghabiskan waktu untuk streaming online TV atau konten video dan juga mendengarkan musik dengan cara streaming. Ini membuat kita, para pemilik brand, bisa menargetkan para milenial melalui konten yang segmented.

Target market milenial juga menggunakan berbagai tipe platform digital, mulai Facebook, Instagram, Twitter hingga Youtube. Apa artinya? Brand tidak bisa lagi menembak target market milenial hanya di satu platform saja. Ada baiknya brand mengepung mereka di berbagai platform, sehingga engagement dari milenial ini didapatkan.

CARA BELANJA PARA MILENIAL

Sebagai audience atau sebagai konsumen, target market milenial ini kebanyakan mengandalkan search engine untuk mencari informasi dari sebuah produk atau brand. 36% milenial mengandalkan search engine, 30% mengetahui brand dari word of mouth alias rekomendasi seseorang dan 30% dari iklan media sosial.

Para milenial ini keponya kebangetan. Rasa ingin tahunya besar. Sebelum membeli sesuatu, mereka pasti akan melakukan riset setelah mengetahui sebuah produk atau brand, entah dari search engine, kata teman atau pun iklan di sosial media. Mereka sama sekali tidak mau salah beli dan sangat berhati-hati. Jadi, brand harus menjadi ‘manusia’ jika ingin menyasar target market milenial.

BACA JUGA : BRANDING DENGAN KONTEN VIDEO LIFESTYLE

Bagi mereka, nilai ke-otentik-an sebuah produk atau brand itu wajib ada. Oleh karena itu, brand harus mengajarkan sebuah pengetahuan yang otentik dan jujur melalui content marketing. Itu yang harus dilakukan brand. Formatnya bisa macam-macam. Yang penting harus otentik, relevan dengan mereka dan konsisten. Konsistensi konten otentik ini juga penting agar para milenial ini tidak merasa ditinggalkan.

Jika brand Anda membutuhkan produksi konten, seperti konten video dan juga konten lainnya, silahkan hubungi Nupix di 08179897961 (Faiz) atau email saja ke hello@nupix.id. Jangan sungkan ya.

Jika bermanfaat, silahkan artikel ini dibagi.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Marhan F. Faiz

Marhan F. Faiz

Copywriter/Co-Founder NUPIX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *